surat untuk seorang sahabat


Bukan karena aku tidak peduli, bukan juga karena aku tidak sayang, bukan pula karena aku ingin menyudahi semuanya. Tapi ini justru karena aku terlalu sayang.
Aku mencoba banyak berdiam, karena aku mulai tidak sanggup dengan perubahan yang luar biasa. Ingat kah saat setahun yang lalu? tepat dimana aku bisa merasakan betapa manisnya sebuah persahabatan, tapi tidak untuk saat ini. Saat duniamu mulai penuh dengan yang namanya cinta.
Tepat sebelas bulan yang lalu, semuanya berubah! Aku sempat sangat sakit saat tau sebuah kebohongan besar. ingat kan saat kamu terbuka dengan ‘orang lain’ dan menutupinya dariku? Saat itu hati ini hancur. Aku mulai belajar menerimanya, karena aku anggap kau pantas bahagia, pantas mengenal yang namanya cinta. Tapi tidak sejauh ini yang ku mau.
Dulu kau yang begitu angkuh terhadap perlakuan lelaki, tapi kini mulai mendayu terhadap rayuannya, dulu kau yang begitu peduli terhadap seorang teman, tapi tidak kini tersingkir oleh raga tegap yang mungkin lebih mampu melindungimu ketimbang seorang teman. Dulu kau yang begitu merindukan hangatnya keluarga, tapi tidak kini aroma pasangat yang lebih menghangatkan. Terlalu jauh, semuanya terlalu jauh dari batas kontrolku. Terlebih semenjak omongan tidak enak yang terus berbicara soalmu. Mungkin bagi mereka, sahabat macam apa aku, membiarkan sahabatnya berubah sejauh ini.
Aku sedikit ingin memberimu kesempatan untuk berbenah diri, untuk sedikit mengoreksi diri. Soal sejauh apa kebutuhanmu terhadap seorang teman, dan tapi bagaimana kini? Apakah diri ini masih berharga? Yang pasti tidak jauh lebih berharga dari seorang kekasih hati.
Wahai sahabat, mendewasa lah, semua orang menyayangimu, sangat menyayangimu, termasuk diri ini yang mungkin terlihat begitu acuh untuk kemarin-kemarin. Aku terlalu emosi, terlalu mementingkan perasaanku, hingga lupa jika semakin aku berdiam, semakin aku melepaskan temanku untuk terus terpuruk.
Kau tahu, begitu banyak keluhan cerita yang ingin diungkapkan, karena aku merasa terlalu lemah untuk menahannya sendiri, ya sendiri seperti 11 bulan tanpa teman yang benar-benar teman. Aku mencintaimu, tapi tidak untuk perubahanmu :’)
Kau boleh mengenal cinta, boleh sekali, tapi lihatlah lingkunganmu, lihatlah keluargamu, dan lihat lah agamamu. Mereka sangat merindukan dirimu yang dulu, yang begitu kokoh dengan harga diri, yang begitu tangguh dengan prinsip. Sekali lagi, mendewasa lah, kau bukan anak kecil yang terus bisa menggenggam kebenaran, belajarlah sedikit melihat dari sudut pandang lain, tentang perasaan orang sekitarmu, tentang betapa pentingnya kehadiran mereka.
Mohon maaf untuk hari hari sebelum ini, mohon maaf untuk sebuah keegoisan, mohon maaf untuk sebuah kekhilafan. Aku bukan ingin melupakan dan menemukan yang baru, sangat bukan, itu hanya sebuah bentuk kesepian dalam diri.
Setelah membaca ini, tersenyumlah, dan kita selesaikan semuanya dalam sebuah obrolan kecil, bukan dengan menduga-duga keburukan.
salam persahabatan untuk seorang yessyka herviana :’)
 
12 comments
  1. owh ini.. kesannya bukan surat ya, serasa curhatan,hehe

    owh pantesan nih teh yessy g pernah keliatan :))

    • surat kak, karena orangnya saya sms untuk baca ini hehe kadang blog bisa jadi media kalau ngga bisa disampaikan secara langsung :p

      • wah..wah.. kenapa harus via blog juga, lebih enak ketemu langsung, bicara dari hati ke hati #eaaaa :))

      • itulah kak manusia, masing2 gengsinya masih terlalu tinggi, mungkin via ini dulu, nanti dilanjutkan via hati #eaaa haha

  2. semoga nanti nilai mit nya bagus tanpa kurang dari kkm
    # amieeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: