ibu, ajari aku..


photoINTERIOR_support
 
“Manusia ibarat sebuah bibit, dimana bibit itu harus ditanam dengan baik, dirawat, ditanam ditempat yang baik dipelihara oleh petani yang baik serta dipanen pada waktu yang tepat”. 

Miris campur shock melihat keadaan pendidikan keluarga di masa kini, entah aku dan keluargaku yang terlalu kolot, atau pendidikan keluarga mereka yang terlampau jauh lebih modern.  Bukan lagi isu, tapi aku banyak menyaksikannya sendiri, anak usia dini yang begitu kuat ‘jajan’, jumlah uang yang dikeluarkan untuk jatah seorang anak pun tidak bisa dikatakan sedikit. Beberapa bulan yang lalu aku sempat menyaksikannya sendiri dari kesaksian seorang anak kelas 1 SD yang bercerita jika jumlah jajannya sehari bisa mencapai Rp 5000 atau bahkan lebih, dan beberapa hari ini juga menyaksikan anak ibu kosan yang ‘streng’ banget dalam hal jajan, padahal jelas-jelas lokasi sekolah ada didepan rumah, jadi simpelnya jika si anak lapar, ia bisa langsung pulang kerumah dan makan masakan si ibu, tapi justru ini tidak. Dan menangis selalu dijadikan jurus paling jitu untuk merengek agar permintaannya dipenuhi. Salah siapa kah ini? Tentu bukan salah si anak, tapi salah mereka, Ya! Kedua orangtuanya. Orang tua pada dasarnya memiliki hak veto untuk soal bagaimana ia membentuk watak, perilaku dan kepribadian si anak, mulai dari anak tersebut lahir hingga tumbuh menjadi seorang individu, tapi nyatanya tidak semua orang tua bisa memanfaatkan dengan baik hak dan kewajiban tersebut. Mereka cenderung menganggap remeh setiap hal yang notabene sangat berpengaruh terhadap masa depan anaknya kelak.

Mempertimbangkan berbagai kenyataan pahit yang kita hadapi seperti dikemukakan di atas, pendidikan karakter merupakan langkah sangat penting dan strategis dalam membangun kembali jati diri bangsa dan menggalang pembentukan individu yang lebih baik. Dengan demikian, rumahtangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan watak dan pendidikan karakter pertama dan utama mestilah diberdayakan kembali. Dalam perspektif Islam, keluarga sebagai “school of love” dapat disebut sebagai “madrasah mawaddah wa rahmah, tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang.

Aku pribadi lahir dari keluarga yang bisa dikatakan cukup keras, bagaimana tidak, darah jawa timur dan sumatra yang menjadikan keluarga kami begitu disiplin dalam setiap hal. Dari kecil ibu begitu membatasi keinginan kami, tidak semua keinginan terpenuhi, termasuk soal jajan. Ibu mengajarkanku membawa bekal dari rumah, dan kebiasaan itu  masih terbawa hingga masa SMA . Ibu bukan pelit, ibu tetap memberi kami uang jajan, tapi jelas nominalnya tidak sebesar anak pada masa kini. Bagiku ini cara ibu untuk mengajarkan bagaimana kerasnya hidup, bagaimana kondisi bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi. Dan aku ingat betul, dari kecil ibu mengajarkanku untuk jangan pernah meminta, “ jika adek ingin, adek bisa beli, atau bilang ke ibu, jangan biasakan meminta milik orang lain “. Tapi apa boleh buat, anak kecil selalu saja tergoda ketika melihat temannya memiliki makanan yang nampaknya menarik, aku pun melanggar janji itu, “ maaf ibu, aku meminta untuk kali ini, tapi aku janji tidak untuk kali berikutnya” . Saat itu sepulang sekolah, aku menghampiri ibu dan menangis dengan memeluknya, ibu kaget bukan main, tanpa berbicara apapun seorang aku menangis tanpa sebab. Aku ceritakan panjang lebar, soal janji yang aku khianati “ ibu, adek minta maaf, adek tadi meminta milik teman disekolah”. Ah! Semakin diingat, semakin lucu kejadian semacam ini. Yang pasti bagi ibu, semua ini ia lakukan agar kami anak-anaknya belajar untuk hidup dengan memberi sebanyak-banyaknya bukan justru untuk menerima sebanyak-banyaknya.

Ibu, ajari aku..

Ajari aku soal bagaimana mendidik penerus yang lebih baik, ajari aku soal menjadi pelita pada sebuah madrasah keluarga, ajari aku soal menjaga hati yang sekuat baja, dan ajari aku soal bagaimana mencintai dan dicintai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: