Ramadhan dan kematian


Hari ini tepat H-5 goes to Ramadhan, bulan suci yang pastinya sangat dinanti-nanti setiap muslim, bulan yang identik dengan keberkahan yang tak pantas dikhawatirkan jumlahnya.

Sudahkah kita berdoa kepada Allah `Azza Wa Jalla agar
memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam keadaan iman, islam, dan sehat wal afiat?
Sudahkah kita bergembira dengan kedatangan bulan
Ramadan?
Sudahkah kita merancang berbagai target dan agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan?
Sudahkah kita mempelajari berbagai hukum-hukum yang terkait dengan beberapa ibadah yang akan kita di bulan suci Ramadhan?
Sudahkah kita menyambut bulan suci Ramadhan dengan sebuah kesungguhan tekad untuk meninggalkan berbagai dosa dan kebiasaan buruk yang selama ini kita kerjakan?
Sudahkah kita mensucikan serta mempersiapkan jiwa kita dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan menghadiri berbagai majelis ilmu yang secara mental membuat kiita semakin siap untuk melaksanakan berbagai keaatan di bulan Ramadan nanti?

Semoga selalu ada checklist dalam persiapan kali ini. Karena demikianlah seharusnya seorang muslim menyambut Ramadhan, seperti tanah kering yang menyambut hujan, seperti si sakit yang membutuhkan dokter untuk mengobatinya dan seperti seseorang yang menanti keasihnya.

Semakin dekat Ramadhan tapi kabar kematian pun semakin ramai terngiang-ngiang. Kemarin si A telah bermimpi tentang surga, hari ini si B yang tengah merasakan sakitnya sakaratul maut, dan selalu ada kemungkinan bahwa esok adalah saat dimana semua orang menangisi kepergian kita ( ya, kita, aku atau mungkin kamu). Entah apa yang mereka tangisi, soal kehilangan yang begitu mendalam atau soal ‘hutang’ yang belum sempat terbayarkan oleh diri ini. Yang pasti saat semacam ini akan datang, ntah disaat kita matang akan persiapan atau disaat tangan tak menggenggam apapun terkecuali urat nadi.
Tak ada yang tahu apakah kesempatan bertemu Ramadhan akan kita rasakan, pun tak ada yg tahu apakah ini akan jadi Ramadhan terakhir untuk kita nantinya. Tapi yang aku tau pasti, masih tersedia kesempatan yang begitu besar untuk memohon kesempatan itu, kesempatan disampaikannya umur pada bulan yang begitu luar biasa.

Dan tahu kah kau nikmat yang begitu menakutkan? Ketika kematian menjadi alasan dari sebuah air mata, ketika tak ada ketenangan dalam sebuah tidur, karena engkau tak akan pernah tau, apa masih kau dapati sinar mentari di esok hari. Dan kini, aku tengah menikmati air mata itu :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: