mengingat kematian


“Setiap jiwa pasti merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Bismillaah,

Seperti biasanya, malam itu perbincangan ke-lima-kali-nya melalui telpon. Singkat cerita ibu menyampaikan berita kematian salah satu teman mendaki kakak yang sudah sangat akrab. Usia beliau kurang lebih sudah 60 tahun, dan masih sangat hobi dengan yang namanya mendaki gunung, wafat akibat kedinginan ketika sedang mendaki sebuah gunung di Maluku. Innalillaahi wa inna ‘ilaihi rajiun..

” ibu pernah dengar dek, kata ustadz- seseorang itu diwafatkan sesuai dengan kebiasaan yang sering ia lakukan ”

Dengar perkataan ini langsung #nanceppp banget rasanya. Kebiasaan? sering dilakukan? Tetiba ngerasa kebiasaan atau bahkan hal yang sering aku lakukan sama sekali belum ada baik2nya, dengan kata lain aku ngerasa belum siap kalau aku diwafatkan dengan aktivitasku yang masih perlu banyak pertanggung jawaban terhadap Allah😥 Belum punya bekal yang bisa sebanding dengan surga Allah. Pokoknya masih banyak belum-belum nyaaaa… Aku yang mungkin masih lebih sering disibukkan dengan ponselku, aku yang masih sering kurang pandai memanfaatkan waktu kosongku,  gimana ceritanya kalau ternyata Allah mewafatkanku dalam kondisi seperti itu?😥

Kematian yang seharusnya disambut dengan kebahagiaan karena bertemu Allah, lagi-lagi masih terasa amat menakutkan. Ngga kebayang kalau tiba-tiba tentara kematian mendatangiku, dan malaikat pencabut nyawa sudah siap disampingku, sekali hentak, habislah waktuku didunia. Tak ada lagi kesempatan. Tak ada lagi perbaikan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkan olehnya untuk hari esok…” (QS. Al-Hasyr: 18)

“Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kalian kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 198)

That’s the point, kita ada di dunia pada dasarnya untuk mempersiapkan kematian dan kehidupan setelahnya (re: akhirat). Tapi apa aktivitas kita di dunia sudah pada persiapann tersebut ??? atau mungkin kita lebih disibukkan pada persiapan untuk duniawi saja??? That’s the big question that you should answer with the big act! Ibarat dalam mendapatkan kebahagiaan dunia kita selalu merasa kurang, seperti itulah seharusnya dalam mengejar akhirat, jangan cukup berbangga dengan satu amalan yang mungkin sudah terlihat “wah” . “Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. [HR Bukhari dan selainnya]

Maka dari itu, kita memohon kepada Allah agar termasuk dari orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah nabinya yang mulia, dan semoga kita di hidupkan di atas agama Islam, diwafatkan di atas keimanan, semoga Allah memberikan kita taufik untuk mengerjakan apa yang Dia cintai dan ridhai. Dan kita memohon kepada Allah agar menolong kita untuk bisa mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, mengerjakan ibadah kepada-Nya dengan baik, menerima (amal ibadah) dari kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa dan merahmati kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kepada para keluarga serta seluruh shahabat beliau. Aamiin Allaahumma Aamiin..

Mari memperbanyak mengingat pemutus kelezatan, kawan..

#notetomyself

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: